Our Program

Local Conference of Children and Youth Indonesia 2026

tentang lcoy

Tentang Local Conference of Children and Youth (LCOY)

LCOY (Local Conference of Children and Youth) merupakan kegiatan yang dipimpin oleh anak dan orang muda di bawah naungan YOUNGO, konstituensi resmi anak dan orang muda dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). LCOY menjadi ruang di tingkat nasional bagi anak dan orang muda untuk berdiskusi mengenai isu iklim, menyusun pandangan dan rekomendasi kebijakan, serta mempersiapkan keterlibatan mereka dalam United Nations Climate Change Conference (COP) setiap tahunnya.

Hasil dari LCOY Indonesia kemudian dibawa ke Conference of Youth (COY) dan selanjutnya ke forum COP. Selain menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dan berbagi pengetahuan, LCOY menghubungkan proses negosiasi iklim global dengan aksi iklim di tingkat lokal melalui sesi interaktif, diskusi, dan lokakarya.

LCOY juga tidak berhenti pada penyelenggaraan konferensi. Hasil diskusi akan didokumentasikan melalui National Children and Youth Statement, disampaikan kepada pemangku kepentingan terkait, serta ditindaklanjuti melalui pemantauan terhadap implementasi rekomendasi. Rangkaian proses ini bertujuan membangun partisipasi dan pemberdayaan anak dan orang muda yang berkelanjutan dalam agenda iklim, dari tingkat lokal hingga global.

tentang lcoy 2026

LCOY Indonesia 2026

Local Conference of Children and Youth (LCOY) Indonesia 2026 merupakan platform nasional yang mempertemukan anak dan orang muda dari berbagai provinsi di Indonesia untuk membangun gerakan iklim yang inklusif, memperkuat suara kolektif, serta merumuskan visi dan solusi iklim bersama. Sebagai bagian dari YOUNGO, organisasi konstituensi resmi anak dan orang muda untuk UNFCCC, LCOY Indonesia 2026 menjadi ruang bagi anak dan orang muda untuk menyuarakan perspektif mereka dan berkontribusi dalam agenda iklim nasional maupun global menjelang COP31
Climate Rangers mengakui adanya ketidakadilan iklim, yaitu kondisi ketika dampak, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi krisis iklim tidak terbagi secara merata. Ketidakadilan ini telah nyata berdampak pada anak dan orang muda Indonesia, mulai dari deforestasi di Papua Selatan, Riau, dan Sumatera Selatan, polusi PLTU batu bara di Sumatera Barat dan Bengkulu, hingga penggundulan hutan bakau pelindung di Maluku Utara. dDi sisi lain, kebijakan dan aksi iklim nasional masih jauh dari memadai untuk memenuhi target 1,5°C sebagaimana tertuang dalam Persetujuan Paris.
Sebagai kelompok yang menghadapi dampak krisis iklim secara langsung dan jangka panjang, nak dan orang muda perlu memiliki ruang untuk menuntut solusi di tingkat daerah, nasional, hingga platform internasional seperti UNFCCC COP. Namun, partisipasi anak dan orang muda di berbagai tingkatan masih kerap bersifat formalitas dan terpinggirkan. Gerakan iklim anak dan orang muda Indonesia juga masih terfragmentasi, tanpa visi dan strategi kolektif jangka panjang yang cukup kuat untuk menantang agenda business-as-usual.
Karena itu, diperlukan ruang dan jaringan nasional yang dapat mempertemukan berbagai suara, pengalaman, dan inisiatif menjadi kekuatan kolektif yang lebih terarah dan terdengar. Menjelang COP31, LCOY Indonesia 2026 menjadi momentum untuk memperkuat gerakan tersebut, mengevaluasi komitmen iklim Indonesia dan global, serta mendorong aksi iklim yang lebih adil dan ambisius sesuai dengan Persetujuan Paris.

Alih Arah

Masa Depan Iklim, Masa Depan Kita

tema

Transisi Energi Berkeadilan

Percepatan transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan perlu disertai akuntabilitas atas kebijakan energi, distribusi manfaat, dan dampaknya terhadap masyarakat. Subtopik ini mendorong transisi energi yang adil serta menempatkan penghentian bahan bakar fosil sebagai bagian penting dari agenda iklim Indonesia dan COP31.

Lahan dan Kehutanan

Komitmen Indonesia terhadap FOLU (Forest and Land Use) Net Sink masih berhadapan dengan deforestasi akibat ekspansi industri kayu, pertambangan, dan perkebunan di berbagai wilayah. Subtopik ini menyoroti perlindungan hutan, hak masyarakat atas ruang hidup, serta akuntabilitas atas kebijakan dan perizinan yang berdampak pada ekosistem dan masyarakat.

Pesisir dan Kelautan

Krisis iklim meningkatkan tekanan terhadap wilayah pesisir dan laut melalui kenaikan muka laut, abrasi, dan degradasi ekosistem seperti mangrove. Subtopik ini mendorong perlindungan ekosistem pesisir serta kebijakan adaptasi yang menjamin keselamatan, penghidupan, dan hak masyarakat yang bergantung pada wilayah pesisir dan laut.

Objektif LCOY

1

Anak dan orang muda Indonesia memimpin gerakan yang lebih kuat dan meluas melawan ketidakadilan iklim, yang berakar pada pengalaman lokal mereka sendiri.

Agenda keadilan iklim yang digerakkan oleh anak dan orang muda Indonesia membentuk narasi publik dan kebijakan, baik di tingkat nasional maupun lokal.

2

aktivitas

Galeri Photovoice

Photovoice adalah metode yang menggunakan foto dan narasi untuk merepresentasikan pengalaman, perspektif, serta isu yang dihadapi masyarakat di lingkungan mereka. Dalam fase ini, delegasi mendokumentasikan kondisi di daerah masing-masing berdasarkan subtopik yang dipilih.

Hutan yang Hilang, Ruang Hidup yang Menyempit

Rizky Wijaya
Jakarta

kontak

Informasi Kontak

indonesianlcoy@gmail.com

@lcoyindonesia

Climate Ranger